alam penuh kejutan

alam penuh kejutan
malino

Sabtu, 02 Juni 2012

MAKALAH PENELITIAN TINDAKAN KELAS (Penuntun Pelaksanaan secara Teknis dan Praktis)


PENELITIAN TINDAKAN KELAS
(Penuntun Pelaksanaan secara Teknis dan Praktis)

A. PENDAHULUAN
            Salah satu kompetensi profesional yang dituntut dari guru adalah kemampuan melakukan penelitian sederhana dalam rangka meningkatkan kualitas profesional guru, khususnya kualitas pembelajaran (Arikunto, 2007:1-2). Penelitian sederhana itu dinamakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pentingnya PTK bagi guru, selain untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, juga untuk kepentingan promosi kenaikan pangkat dan jabatan mulai dari golongan IV a ke atas dan terlebih untuk penilaian portofolio dalam rangka sertifikasi.
            Mengapa PTK penting dan strategis bagi guru? Hopkins (dalam Wiriaatmadya, 2007: 11) menyatakan bahwa PTK adalah penelitian yang mengkombinasikan prosedur penelitian dengan tindakan substantif, suatu tindakan yang dilakukan dalam disiplin inkuiri atau suatu usaha seseorang untuk memahami apa yang sedang terjadi, sambil terlihat dalam sebuah proses perbaikan dan perubahan. Pernyataan Hopkins tersebut mengisyaratkan, bahwa guru adalah pihak yang sangat berkepentingan dengan pelaksanaan PTK.
            Selain itu, berbagai pihak sangat berkepentingan dalam PTK. Kemmis dan MC Taggant (dalam Suparno, 2008:6) menjelaskan bahwa PTK sebagai bentuk refleksi diri kolektif yang didahulukan oleh para partisipan dalam situasi sosial dengan tujuan untuk memajukan produktivitas, rasionalitas, keadilan pada persoalan sosial, atau praktik pendidikan. Partisipannya adalah guru, siswa, kepala sekolah, orang tua, dan anggota masyarakat. Dalam dunia pendidikan, PTK digunakan dalam pengembangan kurikulum, profesi, program sekolah, perencanaan, dan kebijakan sekolah.

B. PENYUSUNAN USULAN PROPOSAL PTK
1. Perencanaan judul, latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan, dan manfaat penelitian.
        a. Merumuskan judul PTK
                Dalam merumuskan judul PTK, harus tergambar:
·         Tujuan yang akan dicapai
·         Cara menyelasaikan masalah (alternatif pemecahan)
·         Subjek dan lokasi penilitian
·         Singkat dan jelas
Sebagai contoh, berikut ini dikemukakan sebuah judul PTK.
Pemanfaatan Strategi Kooperatif STAD dalam Meningkatkan Gairah Belajar Bahasa Belajar Siswa Kelas X SMA Negeri 17 Makassar
    Judul PTK tersebut, menggambarkan:
·         Tujuan yang akan dicapai adalah meningkatkan gairah belajar bahasa Indonesia
·         Cara menyelesaikan masalah adalah pemanfaatan strategi kooperatif STAD
·         Subjek dan lokasi penelitian adalah siswa kelas X SMA Negeri 17 Makassar
Beberapa contoh judul PTK berikut ini:
·         Peningkatan Kreativitas Siswa dalam Proses Pembelajaran Mata Pelajaran X melalui Penerapan Model Pembelajaran Generatif
·         Pembelajaran Berbasis Konstruktivistik dan Kontekstual pada Mata Pelajaran X untuk Meningkatkan Kemampuan Siswa dalam Memecahkan Masalah pada Mata Pelajaran X dengan Penggunaan Model Pembelajaran Inkuiri
b. Mendeskripsikan latar belakang masalah dan rumusan masalah
Pada dasarnya, latar belakang adalah berisi paparan tentang alasan ilmiah apa dan mengapa PTK itu dilaksanakan? Untuk dapat mendeskripsikan latar belakang masalah dan rumusan masalah dengan baik, maka harus mencerminkan kriteria  berikut:
·         Mendeskripsikan kondisi nyata yang dihadapi guru dalam pembelajaran dengan dasar pertimbangan: (1) keluhan guru mengenai masalah tersebut, (2) ada identifikasi masalah, (3) ada analisis masalah, (4) ada refleksi awal, dan (5) ada rumusan masalah.
·         Ada dukungan penelitian tindakan, pengamatan peneliti/guru sendiri, dan dukungan kajian pustaka.
c. Merumuskan tujuan PTK
 Untuk merumuskan tujuan PTK, hendaknya penelitian memperhatikan:
·         Konsistensi dengan rumusan masalah jika rumusan masalah dua, maka tujuannya pun harus dua.
·         Sebaiknya dideskrispisikan dengan menggunakan kalimat deklaratif (pernyataan).
·         Ada sasaran antara bagian awal dan akhir.
d. Merumuskan Manfaat PTK
Perumusan manfaat PTK didasarkan pada tujuan utama pelaksanaan PTK, yakni melakukan pembaharuan dan perbaikan dalam pembelajaran. Oleh karena itu, dalam mengungkapkan manfaat PTK senantiasa berorientasi pada: bermanfaat bagi guru, bermanfaat bagi sekolah, dan bermanfaat bagi siswa.
2.  Penelaahan teori yang relevan
Meski PTK lebih berorientasi pada praktik, landasan teori tetap dibutuhkan. Akan tetapi, landasan atau kajian teori dalam PTK tidak perlu mendalam dan kompleks (Suparno, 2008: 38). Teori yang menjadi landasan PTK adalah teori yang relevan, terkait, dan signifikan dengan judul PTK. Berbagai sumber teori, seperti jurnal penelitian/ilmiah, internet, buku, majalah, dan surat kabar, dan masih banyak lagi lainnya. Sebaiknya, sumber literatur tidak terlalu usang. Dalam arti bahwa tahun penerbitan atau publikasi literatur paling lama lima tahun dan lebih baik lagi kalau ,masih baru.
3.   Penyusunan Siklus PTK
            Alur penyusunan siklus PTK dilaksanakan dengan tahapan berikut:
  1. Peneliti mengidentifikasi masalah konkret dan aktual dalam proses pembelajaran. Masalah konkret dan aktual diperoleh dengan melakukan studi pendahuluan berupa observasi dan wawancara.
  2. Peneliti bersama-sama dengan guru menentukan satu masalah yang perlu segera mendapatkan penanganan.
  3. Setelah menentukan permasalahan yang perlu segera mendapatkan penanganan, maka peneliti dan guru menetukan jumlah tindakan (siklus) yang akan dilaksanakan.
  4. Peneliti dan guru bersama-sama merumusakan perencanaan tindakan satu (tampakkan dalam RPP)
  5. Peneliti bersama dengan guru melaksanakan tindakan satu (sebaiknya peneliti menjadi model dan guru mengamati secara serius cara peneliti menerapkan cara pemecahan masalah).
  6. Peneliti dan guru melakukan pengamatan terhadap pelaksanaan tindakan satu, mengevaluasi, dan melakukan refleksi.
  7. Dalam kegiatan observasi, evaluasi, dan refleksi tersebiut akan ditemukan sejumlah informasi tentang efektif tiudaknya tindakan yang telah diberikan.
  8. Peneliti dan guru merancang tindakan dua yang diharapkan lebih baik daripada tindakan satu.
  9. Peneliti dan guru merencanakan dan sekaligus melaksanakan tindakan dua (tampilkan dalam RPP).
  10. Peneliti dan guru melakukan pengamatan, evaluasi, dan refleksi terhadap tindakan dua.
  11. Dari hasil pengamatan, evaluasi, dan refleksi diperoleh informasi tentang pembaharuan perbaikan pembelajaran yang telah dilaksanakan.
  12. Selanjutnya, peneliti dan guru merencanakan dan sekaligus melaksanakan tindakan tiga.
  13. Peneliti dan guru melakukan pemantauan, evaluasi, dan refleksi terhadap tindakan tiga.
  14. Kegiatan berakhir setelah ditemukan model pembelajaran yang efektif sesuai dengan yang ditargetkan.
4.  Penyusunan Instrumen PTK (Perangkat Pembelajaran)
Instrumen dalam PTK berarti: (1) alat evaluasi yang digunakan untuk mengukur perubahan yang terjadi setelah pelaksanaan tindakan. Dalam hal ini, peneliti dapat menggunakan tes dan nontes, (2) alternatif pemecahan yang ditawarkan untuk mengatasi masalah pembelajaran. Alternatif pemecahan tersebut dimunculkan pada rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) terutama pada bagian kegiatan pembelajaran.
5.  Format Usulan Proposal PTK
            Untuk membuat atau menyusun usulan proposal PTK, maka peneliti PTK hendaknya mengikuti format berikut:
  1. Judul
  2. Latar Belakang Masalah
  3. Perumusan Masalah
  4. Tujuan Penelitian
  5. Manfaat Penelitian
  6. Kajian Pustaka
  7. Metode Penelitian
1.    Setting Penelitian
2.    Rencana Tindakan
a.    Persiapan
b.    Pelaksanaan Tindakan
c.    Evaluasi dan Refleksi
3.    Siklus Penelitian
4.    Teknik Pengumpulan Data
5.    Teknik Pengelolahan Data
6.    Instrumen Penelitian
  1. Jadwal Penelitian
  2. Rencana Biaya Penelitian
  3. Daftar Pustaka
  4. Personali Penelitian
  5. Lampiran

C. PENULISAN LAPORAN HASIL PTK
            Secara garis besar, laporan hasil PTK dibagi dalam tiga bagian, yaitu bagian pembukaan, bagian isi, dan bagian penunjang (Supardi, 2007: 140-147). Berikut dikemukana secara singkat.
1.    Bagian Pembukaan
·         Halaman judul
·         Halaman pengesahan
·         Abstrak (jika diperlukan)
·         Kata pengantar
·         Daftar isi
·         Daftar lampiran
·         Daftar tabel (kalau ada)
2.    Bagian Isi
Pada bagian isi, laporan hasil PTK memuat lima bab penting yang perlu diperhatikan. Bab dalam bagian isi adalah:
BAB I PENDAHULUAN
a.    Latar belakang masalah, mendeskripsikan data faktual awal yang menunjukkan terjadinya masalah, tempat/setting, pentingnya masalah dipecahkan dengan cara atau metode yang diperlukan.
b.    Perumusan masalah berupa pernyataan tentang masalah sehingga harus dirumuskan dalam kalimat pernyataan yang mengandung unsur-unsur kata tanya seperti bagaimana, apa, dimana, siapa, dsb.
c.    Tujuan penelitian, dapat berupa tujuan umum dan tujuan khusus.
d.    Manfaat penelitian, dapat dicantumkan manfaat teoretis dan praktis. Manfaat teoretis yang ditujukan untuk keperluan dan kegunaan pengembangan ilmu. Manfaat praktis ditujukan untuk keperluan pihak yang berkepentingan, seperti bagi siswa, guru, dan bagi  pihak lain yang terkait dan berkompoten.
BAB II KAJIAN PUSTAKA
Dalam PTK, kajian pustaka hanya dimaksudkan untuk memberi petunjuk bahwa suatu tindakan itu dibenarkan secara teoretis. Kedudukan teori dalam PTK adalah:
a.    Teori memberi arah atau petunjuk tentang variabel permasalahan  yang dipecahkan dan variabel tindakan yang digunakan untuk mengatasinya.
b.    Peneliti memberi alasan teoretis bahwa tindakan yang diambil didukung oleh referensi yang ada.
c.    Tindakan tertentu dimungkinkan dapat meningkatkan mutu proses pembelajaran, tetapi tidak untuk membuktikan teori.
d.    Hipotesis tindakan (jika diperlukan).
BAB III METODE PENELITIAN
Pada bab metode penelitian, unsur-unsur yang dikemukakan:
a.    Subjek penelitian
b.    Setting/tempat/latar penelitian
c.    Perencanaan tindakan, meliputi persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi serta refleksi.
d.    Siklus penelitian
e.    Teknik pengumpulan data
f.     Teknik pengelohan (analisis) data
g.    Instrumen penelitian
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
            Pada bab hasil penelitian dan pembahasan, aspek atau bagian yang dikemukakan:
a.    Deskripsi setting penelitian
Gambaran kondisi atau keadaan lapangan pada saat tindakan dilakukan baik secara kualitatif maupun kuantitatif.
b.    Hasil penelitian
Sajikan data lengkap dari setiap siklus sehingga diperoleh gambaran mengenai perubahan/perbukuan dari hasil kegiatan observasi. Data dapat pula dibuat dalam betuk grafik atau tabel.
c.    Pembahasan
Rangkuman hasil penelitian dari seluruh siklus dan membahas setiap aspek apakah terjadi perubahan atau peningkatan yang disertai alasan yang rasional dan logis.
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
Pada bab simpulan dan saran hanya dikemukakan:
a.    Simpulan
Kemukakan simpulan yang diperoleh dari hasil analisis pada bab empat. Simpulan harus mengacu pada perumusan masalah dan tujuan penelitian.
b.    Saran
      Saran terkait dengan: (a) saran untuk penelitian lanjutan, dan (b) saran untuk persiapan hasil PTK.
3.    Bagian Penunjang
DAFTAR PUSTAKA
Gunakan cara penulisan daftar pustaka yang berlaku. Salah satu system penulisan daftar pustaka yang diacu adalah system APA (American Psikological Assosiation).
Contoh:
Sagor, R. 1994. How to Conduc Collaborative Action Research. Alexsandria USA: ASPN.

Gross, Ronald dan Bertice. 1985. The Great Scool Debete. New York, N.Y: A. Touchstone Book.

Kartodirjo, Sartono. 1990. Kebudayaan Pembangunan  dalam Perspektif Sejarah. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

LAMPIRAN-LAMPIRAN
Beberapa lampiran yang perlu dan penting dicantumkan dalam laporan hasil PTK adalah:
·         Instrumen Penelitian
·         Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)
·         Foto/Gambar pada saat pelaksanaan PTK
·         Biodata peneliti
·         Dan lain-lain
4.    Format Penyusunan Laporan Hasil PTK
Untuk memudahkan penyusunan laporan PTK, maka peneliti hendaknya memperhatikan format penyusunan laporan berikut ini:
Halaman sampul
Halaman pengesahan
Abstrak
Kata Pengantar
Daftar Isi
Bab I Pendahuluan
a.    Latar Belakang Masalah
b.    Perumusan Masalah
c.    Tujuan Penelitian
d.    Manfaat Penelitian
Bab II Kajian Pustaka
Bab III Metode Penelitian
a.    Setting Penelitian
b.    Subjek Penelitian
c.    Rencana Tindakan
1.    Persiapan
2.    Pelaksanaan
3.    Evaluasi dan refleksi
d.    Silabus Penelitian
e.    Teknik Pengumpulan Data
f.     Teknik Pengelolaan (Analisis) Data
g.    Instrumen Penelitian
Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan
a.    Deskripsi Setting Penelitian
b.    Hasil Penelitian
c.    Pembahasan
Bab V Simpulan dan Saran
a.    Simpulan
b.    Saran
Daftar Pustaka
Lampiran

D. PENUTUP
            Pada dasarnya, PTK adalah suatu kegiatan penelitian yang bertujuan untuk membenahi dan mengatasi berbagai masalah dalam proses pembelajaran. Mengatasi masalah pembelajaran memang dapat ditinjau dari berbagai segi, seperti dari aspek siswa, strategi pembelajaran, model pembelajaran, guru, dan sebagainya. Dengan membenahi proses pembelajaran, diharapkan kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan.
            Masalah yang dihadapi guru dewasa ini adalah kekurangtahuan dan kekurangpahaman mengenai subtansi PTK. Dengan aktif mengikuti kegiatan pelatihan PTK, maka diharapkan guru dapat menambah wawasan dan pengetahuan mengenai PTK sehingga guru termotivasi untuk melakukan PTK. Kegiatan PTK yang ideal adalah PTK yang dilaksanakan secara kolaboratif, yaitu antara guru selaku praktisi di lapangan dan dosen selaku teoretis atau pakar.  Dengan demikian, pemecahan masalah pembelajaran dapat ditangani secara komprehensif. Masalah lain adalah keterbatasan dana. Banyak guru tidak mampu melaksanakan PTK karena terkendala oleh ketersediaan dana atau biaya penelitian. Berbeda halnya di perguruan tinggi, dosen dapat melaksanakan PTK dengan dukungan dana dari Departemen Pendidikan Nasional.

DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2007. “Penelitian Tindakan Kelas (Clasroom Action Research)” dalam Penelitian Tindakan Kelas, halaman 1-40. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Rofiuddin, Ahmad. 2007. “Penelitian Tindakan Kelas: Konsep Dasar dan Aplikasinya” Makalah yang Disajikan dalam Pelatihan Nasional Penelitian Tindakan Kelas, Makassar 10 dan 24 November 2007.
Supardi. 2007. “Penelitian Tindakan Kelas (Clasroom Action Research) Beserta Sistemtika Proposal dan Laporannya.” Dalam Penelitian Tindakan Kelas, halaman 99-151. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Suparno, Paul. 2008. Riset Tindakan untuk Pendidikan. Jakarta: PT Gramedia Widia Sarana Indonesia.
Tim Pengembang Universitas Negeri Makassar. 2006. Modul Pelatihan Penelitian Tindakan Kelas untuk Sekolah Unggulan di Sulawesi Selatan.Makassar: UNM.
Wiriatmadya, Rochmiati. 2007. Metode Penelitian Tindakan Kelas untuk Meningkatkan Kinerja Guru dan Dosen. Bandung: Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia bekerjasama PT Remaja Rosdakarya..




    

MAKALAH PENULISAN BAHAN AJAR DAN BUKU TEKS PELAJARAN


PENULISAN BAHAN AJAR DAN BUKU TEKS PELAJARAN



1.  PENDAHULUAN
            Bahan ajar merupakan media penting bagi guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Tanpa bahan ajar, tampaknya guru akan mengalami kesulitan dalam menyampaikan materi pembelajaran. Pada prinsipnya, guru harus selalu menyiapkan bahan ajar dalam pelaksanaan proses pembelajaran.
            Pada umumnya, bahan ajar telah tersedia di berbagai toko buku. Bahan ajar yang dikemas dalam bentuk buku teks pelajaran ditulis oleh para pakar dan praktisi dari latar mata pelajaran atau bidang studi. Menulis bahan ajar tidak boleh dilakukan sembarangan, tetapi harus mengikuti kaidah penulisan bahan ajar yang standar. Oleh karena itu, tidak semua guru mengetahui dan memahami bagaimana menulis atau menyusun bahan ajar yang baik.

2.APA ITU BUKU TEKS
            Pengertian buku teks telah banyak dikemukakan para ahli, Tarigan dan Tarigan (1993: 11-13) menyimpulkan;  (a) buku teks itu selalu merupakan  buku pelajaran yang ditujukan  bagi siswa pada jenjang pendidian tertentu; (b) buku teks itu selalu berkaitan dengan  bidang studi tertentu; (c) buku teks itu selalu menampilkan  buku yang standar       (d) buku teks itu biasanya disusun dan ditulis oleh para pakar; (e) buku teks itu ditulis untuk tujuan pembelajaranl tertentu; (f) buku teks biasanya juga dilengkapi  dengan sarana pembelajaran; dan (g) buku teks itu selalu ditulis untuk menunjang sesuatu program pembelajaran.
            Menurut Kamaruddin (1999:1), bahan ajar bukan sekadar alat bagi guru untuk mengajar siswa. Namun, yang lebih penting ialah buku  sebagai sumber yang digunakan siswa agar ia belajar. Bahan ajar pada umumnya dikemas  ke dalam buku ajar atau buku teks. Buku teks hendaknya terpaut dengan  kurikulum yang dioperasikan pada jenis dan jenjang pendidikan tertentu. Buku teks yang digunakan seyogianya mengacu pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

3.  KELAYAKAN BUKU TEKS
            Geene dan Petty (dalam Tarigan dan Tarigan, 1993: 20-21) mengemukakan kriteria buku teks yang layak sehingga berkualitas adalah:
a.       Buku teks itu haruslah menarik minat anak-anak, yaitu para siswa yang menggunakannya.
b.       Buku teks itu haruslah mampu memberi motivasi kepada siswa yang memakainya.
c.       Buku teks itu haruslah memuat ilustrasi menarik hati para siswa yang memanfaatkannya.
d.      Buku teks itu seyogianyalah  mempertimbangkan aspek-aspek kebahasaan  sehingga sesuai dengan kemampuan para siswa yang memakainya.
e.       Buku teks itu isinya haruslah berhubungan erat dengan pelajaran-pelajaran lainnya.
f.       Buku teks itu haruslah dapat merangsang aktivitas pribadi para siswa yang mempergunakannya.
g.      Buku teks itu haruslah menyajikan konsep yang jelas agar tidak membingungkan  para siswa yang memakainya.
h.      Buku teks itu haruslah menjadi sudut pandang yang jelas dan tegas.
i.        Buku teks itu haruslah mampu memberi  pemantapan dan penekanan pada nilai-nilai anak dan orang dewasa.
j.        Buku teks itu haruslah dapat menghargai perbedaan-perbedaan pribadi para siswa  yang memakainya.
            Kriteria  kelayakan buku teks yang bermutu  sebagaimana dikemukakan  Geene dan Petty, paling tidak akan menuntun guru dalam  memilih buku teks yang akan dijadikan sebagai sumber pembelajaran. Dewasa ini, berbagai buku teks telah tersedia di pasaran. Guru tidak lagi  mengalami kesulitan  dalam menyiapkan buku teks sebagai sumber pembelajaran.  Guru tinggal selektif dalam  memilih dan memilah buku teks yang layak untuk digunakan.

4.      INSTRUMEN PENILAIAN BUKU TEKS PELAJARAN
Selain memanfaatkan buku teks pelajaran sebagai sumber pembelajaran, guru  juga dapat menulis buku teks pelajaran. Departemen Pendidikan Nasional melalui  Pusat Perbukuan (Pusbuk) yang bekerjasama dengan  Badan Standar Nasional   Pendidikan (BSNP) telah membuka kesempatan seluas-luasnya  bagi guru di seluruh Indonesia dan di berbagai jenjang pendidikan untuk menulis buku teks pelajaran.  Sebagai informasi, berikut ini dikemukakan secara singkat  instrumen  penilaian buku teks pelajaran, yang meliputi tiga komponen , yaitu,  (1) isi, (2) bahasa, dan (3) kegrafikaan.
a. Isi buku teks, meliputi:
I. Kelayakan isi, subkompenen:
A. Kesesuaian uraian materi dengan standar kompetensi (SK)  dan kompetensi dasar (KD),  meliputi butir: (1) keluasan materi, (2) kedalaman materi, dan                    (3) pemilihan tema.
B. Keakuratan materi, meliputi butir: (1) ketepatan konsep, (2) keotentikan materi, dan (3) ketepatan prosedur.
C. Materi pendukung, meliputi butir: (1) kesesuaian dengan perkembangan ilmu;        (2) kemutakhiran wacana; (3) keingintahuan dan giat untuk belajar;                        (4) keberagaman sosial dan budaya; (5) ketersajian lingkungan; (6) kecakapan hidup; dan (7) kecintaan terhadap bahasa Indonesia
II. Kelayakan penyajian, subkomponen:
A.    Teknik penyajian, meliputi butir: (1) kekonsistenan sistematika,                              (2) kesinambungan antarbab, (3) keruntutan konsep, dan                                         (4) kesesuaian/ketepatan ilustrasi dengan materi dalam bab.
B.     Penyajian pembelajaran, meliputi butir: (1) berpusat pada peserta didik;               (2) ketersuguhan metakognisi peserta didik; (3) ketersuguhan  peserta didik  untuk berpikir  kritis, kreatif, dan inovatif termasuk melalui metode inkuiri/eksperimen; (4) metode pembelajaran tematis; dan (5) variasi pengajaran
C.     Kelengkapan penyajian, meliputi butir: (1) pengantar, (2) pendahuluan, (3) daftar isi, (4) glosarium,  (5) daftar pustaka, (6) daftar indeks subjek dan orang, (7) identitas tabel dan gambar, (8) rangkuman dan refleksi, dan (9) evaluasi.

b. Bahasa buku teks, meliputi:
I. Kelayakan bahasa, subkomponen:
A. Kesesuaian dengan tingkat perkembangan peserta didik, meliputi butir: (1) kesesuaian dengan tingkat perkembangan berpikir peserta didik, dan (2) kesesuaian dengan tingkat perkembangan sosial-emosional peserta didik.
B.  Komunikatif, meliputi butir: (1) keterpahaman pesan, (2) ketepatan tata bahasa dan ejaan, dan (3) kebakuan istilah dan simbol.
C.  Keruntutan dan kesatuan gagasan,meliputi butir: (1) keutuhan makna dalam bab, (2) keutuhan makna dalam subbab, (3) keutuhan makna dalam paragraf. (4) keterpautan antarbab dalam satu buku, (5) keterpautan antara  bab dan subbab, antarsubbab dalam satu bab (6) kebertautan antara paragraf dalam subbab, dan     (7) kebertautan antarkalimat dalam satu paragraf.
II. Kelayakan penyajian, subkomponen:
A.    Teknik penyajian, meliputi butir: (1) kekonsistenan sistematika,                             (2) kesinambungan antarbab, (3) keruntutan konsep, dan  (4) kesesuaian/ketepatan ilustrasi dengan materi dalam bab.
B.     Penyajian pembelajaran, meliputi butir: (1) berpusat pada peserta didik;               (2) ketersuguhan metakognisi peserta didik; (3) ketersuguhan  peserta didik  untuk berpikir  kritis, kreatif, dan inovatif termasuk melalui metode inkuiri/eksperimen; (4) metode pembelajaran tematis; dan        (5) variasi pengajaran
C.     Kelengkapan penyajian, meliputi butir: (1) pengantar, (2) pendahuluan,                   (3) daftar isi, (4) glosarium, (5) daftar pustaka, (6) daftar indeks subjek dan orang, (7) identitas tabel dan gambar, (8) rangkuman dan refleksi, dan (9) evaluasi.
c Komponen kegrafikaan, subkomponen:
A. Ukuran buku
B. Desain Kulit buku, meliputi butir: (1) tata letak, (2) tipografi, dan  (3) ilustrasi
C. Desain isi buku, meliputi butir: (1) tata letak, (2) tipografi, dan (3) ilustrasi

5.  BEBERAPA JENIS BAHAN AJAR
            Bahan ajar adalah sarana untuk mendukung penyampaian materi pembelajaran. Bahan ajar dapat berbagai macam, seperti buku teks pelajaran, modul, diktat, atau karya terjemahan. Penulisan bahan ajar merupakan komponen pengembangan profesionalisme guru sehingga guru diharapkan dapat menghasilkan buku, modul, atau diktat.
a. Buku teks pelajaran
            Buku teks pelajaran adalah sumber rujukan yang digunakan guru dalam mencapai tujuan pembelajaran. Bila merujuk pada KTSP, maka buku teks pelajaran harus mengacu pada Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, dan Indikator yang telah ditetapkan sehingga membantu siswa untuk memahami materi yang disampaikan.
            Secara umum, kerangka isi buku teks pelajaran:
1. Bagian Pendahuluan
    a. Kata Pengantar
    b. Daftar Isi
    c. Penjelasan tujuan buku pelajaran
    d. Petunjuk penggunaan buku
    e. Petunjuk pengerjaan soal latihan
2. Bagian Isi
    a. Judul bab atau topik bahasan
    b. Uraian singkat pokok bahasan
    c. Penjelasan tujuan bab
    d. Uraian isi pembelajaran
    e. Penjelasan teori
    f. Sajian contoh
    g. Ringkasan isi bab
    h. Soal latihan
    i. Kunci jawaban soal latihan
3. Bagian Penunjang
    a. Daftar pustaka
    b. Lampiran-lampiran
b. Diktat
            Diktat adalah catatan tertulis suatu mata pelajaran atau bidang studi yang dipersiapkan oleh guru untuk mempermudah/memperkaya (bahan pengayaan) materi mata pelajaran atau bidang studi yang disampaikan guru dalam proses pembelajaran. Diktat diartikan pula sebagai buku pelajaran yang disusun guru  berupa stensilan (bukan cetakan).
            Secara umum, kerangka isi diktat:
1. Bagian pendahuluan
    a. Daftar isi
    b. Penjelasan tujuan diktat pelajaran
2. Bagian isi
    a. Judul bab atau topik isi bahasan
    b. Penjelasan tujuan bab
    c. Uraian isi pembelajaran
    d. Penjelasan teori
    e. Sajian contoh
    f. Soal latihan
c. Modul
            Modul adalah materi pembelajaran yang disusun dan disajikan secara tertulis dan sedemikian rupa sehingga pembacanya diharapkan dapat menyerap sendiri materi tersebut. Modul juga berarti bahwa kegiatan proses pembelajaran yang dapat dipelajari oleh siswa dengan bantuan yang minimal dari guru pembimbing (biasa juga disebut tutor), meliputi perencanaan tujuan pembelajaran yang akan dicapai secara jelas, penyediaan materi pembelajaran, bahan yang dibutuhkan, dan alat untuk penilai dalam mengukur keberhasilan siswa dalam penyelesaian mata pelajaran.
            Secara umum, kerangka isi modul:
1. Materi modul
    a. Buku petunjuk siswa
    b. Buku isi materi pembelajaran
    c. Buku kerja siswa
    d. Buku penilaian
    e. Buku pegangan tutor
2. Isi modul
    a. Judul
    b. Pengantar
    c. Petunjuk penggunaan modul
    d. Tujuan pembelajaran
    e. Kemampuan prasyarat
    f. Pretes
    g. Isi materi pembelajaran
    h. Kegiatan pembelajaran
    i. Rangkuman
    j. Evaluasi
    k.Tes akhir dan umpan balik
    l. Sumber dan media
   m. Rancangan pembelajaran remedial
    n. Daftar pustaka     

6.  PENUTUP
            Salah satu usaha untuk meningkatkan profesionalisme guru adalah  menulis bahan ajar dan buku teks pelajaran. Buku teks pelajaran adalah sumber pembelajaran yang sangat penting dalam proses pembelajaran.  Guru mesti selektif dalam memilih buku yang layak dan berkualitas.  Untuk memacu kreativitas guru, dimungkinkan pula untuk menulis buku teks pelajaran. Penulisan buku teks pelajaran  harus mengacu pada rambu penilaian  yang telah ditetapkan oleh Pusat Perbukuan (Pusbuk) dan Badan Standar Nasional Pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA
Agib, Zainal. 2004. Karya Tulis Ilmiah bagi Pengembangan Profesi Guru. Bandung: CV Yrama Widya.

Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Instrumen dan Deskripsi Penilaian Buku Teks Pelajaran bahasa Indonesia SD/MI. Jakarta: Pusat Perbukuan dan Badan Standar Nasional Pendidikan.

Kamaruddin. 1999. “Beberapa Pertimbangan Penilaian Bahan Ajar Bahasa dan Sastra Indonesia”  Makalah disajikan dalam Seminar Nasional  dalam Rangka Dies Natalis XXXVIII IKIP Ujung Pandang, 13-14 juli 1999, di Kampus Gunungsari Baru IKIP Ujung Pandang.

Tarigan, Henry Guntur dan Djago Tarigan. 1993. Telaah Buku Teks Bahasa Indonesia.

Muslimah


Bukan dari tulang ubun ia dicipta
karna berbahaya membiarkannya dalam sanjung dan puja
tak juga dari tulang kaki
karna nista membuatnya diinjak dan diperbudak
tapi dari tulang rusuk bagian kiri
dekat ke hati untuk disayangi
dekat ke tangan untuk dilindungi

(dikutip dr: Agar Bidadari Cemburu Padamu)


"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah
orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman."
(QS. Ali Imran:139)


Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya,
dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka,
sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." (QS. An Nur:30)

Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya,
dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang
(biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung
kedadanya...." (QS. An Nur:30)

Pencernaan Makanan



Sistem pencernaan adalah penghancuran bahan makanan (mekanis/enzimatis, kimia dan mikrobia) dari bentuk komplek (molekul besar) menjadi sederhana (bahan penyusun) dalam saluran cerna.
  • Terbentuknya senyawa sederhana itu mempermudah darah menyerapnya sehingga bisa diberikan ke sel yang ada di seluruh tubuh. Maka pencernaan kita adalah Extra sel karena disederhanakan di luar sel di Organ 2 pencernaan sehingga masuk ke sel makanan itu sudah sederhana .
  • Jika makanan sederhana itu setelah diberikan sel , maka bersama senyawa Olsigen makanan itu dioksidasi menjadi energi dab Zat sisa
  • Energinya untuk dibuat ATP senyawa penghasil energi instan, yang mudah diurai untuk bisa menghasilkan energi untuk aktivitasnya
Tujuan dari pencernaan itu sendiri adalah untuk mengubah bahan komplek menjadi sederhana. Dan kegunaanya adalah unuk mempermudah penyeunimrapan oleh vili usus.

Mengapa harus di Villi usus halus Illeum ?
  • Karena di dinding Vili Jonjot usus itu tipis mengigat membentuk tonjolan ( Villi) tempat berhentinya sari majanan
  • Sari makanan itulah yang nanti bercampur air yang akan diserap oleh kapiler darah untuk dibawa ke hati melalui Vena porta hepatica , Dari hati sari makanan diangkut ke Vena cava Inferior dilanjutkan kejantung lemudian diangkut ke sek yang ada di seluruh yubuh
  • Pada manusia atay hewan bahan makanan yang diubah menjadi energi melalui pencernaan adalah karbohidrat, lemak, protein.
  • Sedangkan yang langsung diserap berupa vitamin, mineral, hormon, air.
Pencernaan bahan makan untuk menjafi sederhana bisa dilakukan secara digesti secara
  1. Mekanik / fisika: menggesekan alat-alat pencernaan (cth. Pergesekan gigi atas & bawah, gesekan antar dinding lambung à menghancurkan makanan yg sudah kecil , menjadi lebih kecil lagi ; saat kita tidak makan, perut kita terasa perih, gerak peristaltis)
  2. Kimiawi / enzimatis: menggunakan enzim (mengandung senyawa protein & berfungsi sebagai katalisator) yang berasal dari kelenjar pencernaan
Lokasi digesti:
  1. Pencernaan intraseluler à dilakukan dalam 1 sel & hasil pencernaanya dinikmati o/ sel itu sendiri (terjadi pada hewan-hewan uniseluler)
  2. Pencernaan ekstraseluler àpencernaan di luar sel à hasilnya disebarkan ke sel-sel lain
Bahan Makanan yang dikonsumsi itu bisa berupa zat makanan makronutrein & zat makanan mikronutrein
  1. Zat makanan makronutrein: zat-zat makanan yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah banyak (karbohidrat, protein, lemak)
  2. Zat makanan mikronutrein: zat-zat makanan yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah sedikit (vitamin & mineral)
Bahan makanan yang dikonsumsi itu mempunyai variasi fungsi yaitu membangun, menghasilkan energi & mengatur proses metabolisme
  1. Membangun: membentuk & meregenerasi sel-sel yg mati & rusak
  2. Menghasilkan energi / zat pembakar: karbohidrat (4,1 kal); protein (4,1 kal); lemak (9,3 kal) à bahan-bahan utama
  3. Mengatur proses metabolisme: vitamin (larut dalam air & lemak) & mineral
Makanan yang dikonsumsi harus sehat : hieginis, bergizi, berkecukupan
  • Hieginis: bebas dari kuman à imunitas: toleransi terhadap kuman & bibit penyakit; orang yang tinggal di bawah kolong jembatan & pinggiran-pinggiran jalan mempunyai tingkat imunitas lebih tinggi dari kita
Dilihat dari prosesnya manusia maupun hewan tingkat tinggi mempunyai 4 aktivitas makanan, yaitu :
  1. prehensi (mengambil makanan)
  2. mastikasi (mengunyah)
  3. salivasi (mensekresikan air ludah)
  4. dan deglutisi (menelan).
  • Dalam hal ini deglutisi dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain : peristaltik (peristaltik esophagus mendorong bolus ke arah lambung), tekanan buccopharyngeal (mendorong bolus ke sofagus), dan gravitasi (membantu memudahkan jalannya bolus).
  • dilanjutkan dengan digesti dan ingesti
Urutan saluran pencernaan (Apparatis Digestivus)
Pada hewan lambung tunggal pencernaannya terdiri dari : mulut , tekak (pharyng), kerongkongan (esofogus), gastrium (lambung), intestinum tenue (usus halus : duodenum, ileum, dan jejenum). Instestinum crasum (usus besar = calon, keaekum, rektum), dan anus.
KIMIAWI MULUT

Vena Porta Hepatica


Hati adalah organ yang terbesar yang terletak di sebelah kanan atas rongga
perut di bawah diafragma. Beratnya 1.500 gr  atau 2,5 %  dari  berat badan orang
dewasa normal. Pada kondisi hidup berwarna merah tua karena kaya akan persediaan
darah.  Hati terbagi menjadi lobus kiri dan lobus kanan yang dipisahkan oleh
ligamentum  falciforme. Lobus kanan hati lebih besar dari lobus kirinya dan
mempunyai 3 bagian utama yaitu : lobus kanan atas, lobus  caudatus, dan lobus
quadratus.



Hati disuplai oleh dua pembuluh darah yaitu :

a. Vena porta hepatica yang berasal dari lambung dan usus, yang kaya akan nutrien
seperti asam amino, monosakarida, vitamin yang larut dalam air, dan mineral.

b. Arteri hepatica, cabang dari arteri kuliaka yang kaya akan oksigen.

Cabang-cabang pembuluh darah  vena porta hepatica dan  arteri hepatica
mengalirkan darahnya ke sinusoid. Hematosit menyerap nutrien, oksigen, dan zat
racun dari darah sinusoid. Di dalam hematosit zat racun akan dinetralkan sedangkan
nutrien akan ditimbun atau dibentuk zat baru, dimana zat tersebut akan disekresikan
ke peredaran darah tubuh.